Custom Search
Desa Perdikan
Desa Sendangsari PDF Print E-mail
by Redaksi • 22 April 2009 • Desa Perdikan

Sendangsari terarti sumber air. Tujuh Sumber air (sendang) sejak awalnya berfungsi untuk irigasi pertanian daerah Pajangan dan sekitarnya. Kini tinggal dua sendang, sehingga tidak mencukupi untuk mengairi persawahan, bahkan pada masa sekarang ini malah tergantung dengan tadah hujan dan irigasi teknis, yang penggunaanya sangat tergantung aliran air diatasnya (dari Pandak dan Guosari) kadang areal persawahan tidak teraliri.

Sendangsari terdiri dari areal pegunungan dan hamparan, diapit oleh dua sungai, sebelah timur Sungai Bedog dan sebelah barat Sungai Progo. Sebagian besar tanah pekarangan untuk tanaman keras dan kelapa, sebagian kecil untuk ditanami umbi-umbian. Mata pencarian penduduk selain tani dan bekerja serabutan menjadi tukang, buruh bangunan di kota.

Dusun-dusun di desa Sendangsari

Mangir Kidul Pajangan
Mangir Tengah Beji Wetan
Mangir Lor Beji Kulon
Jaten Krebet
Manukan Bupak Warak
Kamijoro Kayen
Kunden Serut
Benyo Kanoman Wetan
Jetis Kanoman Kulon

Dalam wilayah sendangsari ada dusun Mangir, yang menurut Ceritanya wilayah ini merupakan daerah Perdikan Majapahit, yang dahulu dipimpin oleh Mangir Wonoboyo yang memiliki daerah kekuasaan sejak dari Dlingo sampai pesisir selatan Kebumen. Seiring perkembangan Kerajaaan Mataram daerah Mangir dianggap memberontak karena tidak mau membayar upeti, sehingga daerah ini ditaklukkan di bawah Kerajaan Mataram.

Data Geografi

Luas Desa 1.314,105 Ha, dengan batas Wilayah,
Sebelah Utara:
Desa Bangunjiwo Kec. Kasihan
Sebelah Selatan
Desa Triharjo Kec. Pandak

Kondisi Geografis

Ketinggian tanah dari permukaan laut: kurang lebih 100M, topografi (dataran rendah, tinggi, pantai )
Dataran rendah, suhu udara sekitar 30C.Orbitasi Jarak dari Pusat Pemerintahan Desa; jarak dari pusat pemerintah Kecamatan sekitar 2Km, jarak dari kota kabupaten/kota sekitar 6 Km, sedangkan jarak sampai ke Ibu Kota Propinsi sekitar 15 Km

Data Demografi

Jumlah Penduduk 10.574 orang,
Pria 5.122 orang, Perempuan 5.462 orang
Jumlah Kepala Keluarga: 2.545KK

Status Banyak (bidang) Luas (Ha)
Sertifikat Hak Milik 6.995  
Tanah Kas Desa   39.739
Tanah Bengkok Perangkat Desa    
Tanah Desa Lainnya   47
Tanah bersertifikat melalui Prona 734  
Tanah yang belum bersertifikat    

Tanah

Desa sendangsari merupakan daerah hamparan dan pegunungan, pemanfaatannya sebagian besar untuk lahan pertanian dan pekarangan, rumah penduduk dan fasilitas-fasilitas umum. Status tanah di sendangsari sebagian besar milik pribadi, dan tanah kas desa.. Jalan-jalan utama desa sebagian besar sudah beraspal. Mulai akhir tahun 2008 jalan utama yang menghubungkan dusun jetis sampai manukan mengalami pelebaran 3 meter. Gedung-gedung untuk pelayanan umum sudah memadahi, apalagi ketika gempa menghancurkan bangunan tersebut sudah mulai dibangun kembali.

Peruntukan Luas (Ha)
Jalan 3.5
Sawah dan ladang 533.168
Tanah kering:
Pekarangan
Tegalan

689.0880
236.6230
Bangunan umum 8
Pemukiman/Perumahan 440.10
Perkuburan 19.120
Perkantoran 1.5
Pasar desa  
Tanah Wakaf 490.415
Tanah belum dikelola 279.3105

Pertanian dan Peternakan

Pertanian di sendangsari sangat bergantung dengan musim hujan, irigasi teknis tidak berjalan sebagaimana mestinya, sehingga bila warga membutuhkan air harus memakai pompa. Mengakibatkan biaya produksi tinggi, padahal hasil pertanian, terutama padi kurang baik. Hasil panen hanya memenuhi konsumsi keluarga saja. Kelompok tani yang adapun tidak berjalan sebagaimana mestinya, belum terorganisir secara baik. Kelompok hanya bekerja ketika ada bantuan dari pemerintah (bantuan pupuk, bibit, beras), pemanfaatan pupuk organik untuk pertanian masih dalam skala kecil.

Jenis Pangan Lahan (ha) Hasil Panen/Tahun (ton)
Padi 45  
Jagung 254  
Kacang Tanah 15  
Ketela Pohon 200  
Ketela Rambat 3  
Kedelai 45  
Umbi-umbian 81  

 

Buah-buahan
Pisang   49
Mangga   8.1
Pepaya   1.4
Durian   2.05
Kedondong   0.8
Alpukat   0.1

 

Buah-buahan
Pisang   49
Mangga   8.1
Pepaya   1.4
Durian   2.05
Kedondong   0.8
Alpukat   0.1

 

Perkebunan
Kelapa 117 815.385
Peternakan (ekor)
Ayam kampong   11.422
Ayam Ras   39.000
Itik   89
Kambing   712
Domba   121
Sapi biasa   830

Pekarangan yang ada disekitar rumah ditanami pohon kelapa dan pohon keras (jati, kelapa, bamboo), tanaman kelapa diambil niranya untuk produksi gula merah (rata-rata perhari menghasilkan 2-3 kg gula). Tanaman umbi ataupun koro ada dalam jumlah yang sangat kecil, ditanamai agar pekarangan kelihatan hijau saja. Potensi untuk budidaya umbi-umbian dan koro-koropun masih berpeluang sangat besar

Sapi dan kambing merupakan ternak yang paling utama, rata-rata per KK memelihara 2-3 ekor kambing, 1-2 ekor sapi. Ternak dimiliki sendiri maupun dengan sistem "gaduh’. Ternak menjadi pilihan favorit berperan sebagai "tabungan" dikarenakan pakan yang tersedia cukup banyak, didukung dengan pekarangan yang masih luas. Kotoran ternak yang melimpah belum dimanfaatkan secara maksimal sebagai pupuk kandang, kelompok ternak tingkat dusunpun belum ada.

Sarana Fisik

Sarana fisik yang rusak dan sudah dibangun setelah gempa yaitu gedung balai desa dari iuran warga dan bantuan pemerintah daerah (berada di dusun jetis, sebagai pusat pemerintahan desa), puskesmas kecamatan yang didanai TV swasta (yang letaknya di dusun benyo, yang berada di tengah pusat desa), SD Sendangsari dari dinas pendidikan (berada di dusun manukan, merupakan fusi dari 3 SD yang rusak dan kekurangan anak didik), gudang bulog kabupaten bantul (berada di areal persawahan, selatan jalan utama desa, dahulu tanah milik kas desa yang ditukargulingkan) serta jalan-jalan kampung bantuan PPK kecamatan.

Sumberdaya Manusia

Tingkat pendidikan sebagian besar penduduk adalah tamatan SLTA, warga sendangsari yang kurang mampu hanya bisa menyelesaikan pendidikan formalnya sampai tingkat SD, bila mau melanjutkan ke jenjang lebih tinggi mereka harus sekolah diluar desa sendangsari. Sebagian melanjutkan sekolahnya di sekolah-sekolah kabupaten dengan jarak tempuh yang jauh serta biaya yang tidak sedikit. Untuk warga yang mampu mereka menyekolahkan anaknya ke Perguruan Tinggi di Jogja.

Walaupun pendidikan masyarakat secara umum tidak tinggi, mereka cukup trampil dalam kerajinan rumah tangga (kerajinan kayu di dusun Krebet, kerajinan bambu). Anak-anak lulusan SMP dan SMA yang tidak dapat melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi mereka berkerja sebagai buruh "glidik" di Bantul maupun di Jogja, menjadi buruh tani, buruh "tutuk emping", tukang cat, tukang batu, bahkan tukang becak. Pendapatan dari sektor buruh inipun kecil berkisar 20-25 ribu rupiah perhari. Hanya orang yang mampu saja yang banyak bekerja di sektor jasa dan menjadi pegawai pemerintah: 99 orang
Jumlah Penduduk menurut tingkat pendidikan; Taman Kanak-kanak 533 anak, Sekolah Dasar: 1.776 anak, SMP/SLTP 1.861, SMA/SLTA 2.358, Akademi (D1 - D3) 77 orang, S1-S2 99 orang.

Sekolah Khusus antara lain:

Madrasah 97 orang, Pendidikan Keagamaan 81 orang, Sekolah Luar Biasa 2 orang, Kursus/Ketrampilan 385 orang, Pondok Pesantren 99 orang.

Sumber kehidupan warga desa Sendangsari ada beberapa sektor pekerjaan yang ditekuninya, yaitu : PNS 170 orang, TNI 28 orang, Polri 310 orang, Petani 3.479 orang , Buruh Tani 887 orang ,Buruh 40 orang, Pensiunan 25 orang, Nelayan 9 orang, Jasa 6 orang

Sumber kehidupan warga desa Sendangsari ada beberapa sektor pekerjaan yang ditekuninya, yaitu :

Pekerjaan Jumlah (orang)
Karyawan:
Pegawai Negeri Sipil
TNI
Polri
Swasta

170
28
310
Petani 3.479
Buruh Tani 887
Buruh 40
Pensiunan 25
Nelayan 9
Jasa 6

Modal Sosial

Kehidupan sosial masyarakat di desa sendangsari masih terjaga dengan baik, terlihat masih adanya sistem gotong-royong yang masih berjalan, terbukti dengan peristiwa gempa jogja. Walaupun sempat terpengaruh dengan peristiwa "berebut bantuan" dan penyelewengan dana gempa, (kasus dukuh Mangir Kidul yang diturunkan oleh warga). Kesenian di desapun masih berjalan dengan adanya "reog" yang dipelopori oleh Karang Taruna, upacara sesaji "wiwitan" untuk bumipun masih dilakukan agar hasil bumi melimpah dan mendatangkan keselamatan. Organisasi ibu-ibu yang berjalan di desa terutama kegiatan POSYANDU untuk kesehatan ibu dan anak.

Modal keuangan

Modal keuangan warga desa berasal dari pinjaman bank (SIMPEDES), dan Badan Perkreditan Rakyat (BPR), sebagian dari koperasi desa, arisan ibu-ibu dan arisan SISKAMLING. Permodalan ini hanya bisa diperoleh jika warga menjadi anggotanya, sedangkan bagi warga yang membutuhkan modal namun tidak menjadi anggota, terpaksa menjual ternaknya atau pohon yang dipunyai di pekarangan. Apalagi ketika terbentur biaya hidup sehari-hari, untuk sekolah anaknya, maupun berobat ketika sakit.

Tingkat kemiskinan

Kemiskinan di wilayah ini masih cukup tinggi, namun masih banyak
lahan sempit untuk pertanian (bibit, pupuk masih beli) asset yang ada belum dimanfaatkan optimal. Sebagian besar penduduknya bekerja sebagai buruh "glidik" akses terhadap pekerjaan masih kurang. Akses kesehatan yang masih kurang, sebagian besar belum mendapatkan Kartu Sehat, kalau ke rumah sakit perlu biaya besar, ASKESKIN sering ditolak (Masih menerima raskin dan BLT )

Perubahan-perubahan

Sejak terjadinya gempa jogja pada 27 mei 2006 terjadi perubahan dalam ;

  1. Lahan pekarangan yang dahulu digunakan sebagai "warung hidup" mulai berkurang, kini sebagian didirikan bangunan rumah. Tanaman keras (jati, kelapa) berkurang untuk bahan bangunan. Lahan persawahan berkurang dengan adanya pelebaran jalan utama desa. Areal persawahan pinggir jalan utama ada yang dibangun ruko dan gudang bulog
  2. Selama proses rekontruksi pasca gempa merubah sistim sosial masyarakat, ketergantungan terhadap bantuan semakin tinggi (BLT, dana rekontruksi) sering menimbulkan ketegangan dalam kehidupan bertetangga. Birokrasi desapun semakin parah dengan adanya korupsi yang dilakukan oleh oknum kepala dusun (kasus dukuh mangir kidul yang diturunkan oleh warga)
  3. Kepercayaan terhadap peninggalan nenek moyang masih tinggi, terbukti masih adanya kesenian reog (terutama pemuda mangir) upacara "wiwitan" masih dilakukan agar panen berhasil. Sesaji/kenduri tahunan dilakukan bila ada warga yang lahir pada bulan "suro". Bersih-bersih makam/sarean tiap menjelang bulan ramadhan, yang dilakukan oleh warga yang mempunyai "waris’ di makam tersebut.

Potensi Desa

Kondisi persawahan yang ada di Sendangsari sangat tergantung pada hujan. Dikarenakan sistim irigasi yang ada hanya mencukupi sebagian kecil persawahan. Potensi yang mungkin dilakukan dengan alternativf tanaman sayuran

Pekarangan masih sangat luas yang bisa digunakan sebagai pengembangan tanaman umbi-umbian, koro-koroan dan tanaman obat.

Limbah kotoran ternak (sapi, kambing) belum banyak dimanfaatkan. Bahan ini bisa diolah sebagai bahan pupuk organik maupun energi biogas.

Jaringan yang digunakan dalam pengorganisasian masyarakat, dimulai dari pertemanan orang dengan orang yang kemudian ada pemahaman yang sama untuk membangun desa. Baik menggunakan lembaga formal (karang taruna, kelompok tani) atupun hubungan-hubungan personal, Kelompok-kelompok sosial masyarakat yang dapat diajak bekerjasama meliputi Kelompok Tani, Karang Taruna, komunitas kesenian, POSYANDU, sekolahan (guru sekolah)

Sebagian besar sandaran hidup warga dari "glidik" baik buruh pertanian maupun bekerja dikota, petani yang ada sebagian besar petani "gurem". Pekarangan rumah sebagian ditanami tanaman keras, hasil ternak yang ada digunakan sebagai tabungan.