|
Sendangsari terarti sumber air. Tujuh Sumber air (sendang) sejak awalnya berfungsi untuk irigasi pertanian daerah Pajangan dan sekitarnya. Kini tinggal dua sendang, sehingga tidak mencukupi untuk mengairi persawahan, bahkan pada masa sekarang ini malah tergantung dengan tadah hujan dan irigasi teknis, yang penggunaanya sangat tergantung aliran air diatasnya (dari Pandak dan Guosari) kadang areal persawahan tidak teraliri.
Sendangsari terdiri dari areal pegunungan dan hamparan, diapit oleh dua sungai, sebelah timur Sungai Bedog dan sebelah barat Sungai Progo. Sebagian besar tanah pekarangan untuk tanaman keras dan kelapa, sebagian kecil untuk ditanami umbi-umbian. Mata pencarian penduduk selain tani dan bekerja serabutan menjadi tukang, buruh bangunan di kota. Dusun-dusun di desa Sendangsari | Mangir Kidul | Pajangan | | Mangir Tengah | Beji Wetan | | Mangir Lor | Beji Kulon | | Jaten | Krebet | | Manukan | Bupak Warak | | Kamijoro | Kayen | | Kunden | Serut | | Benyo | Kanoman Wetan | | Jetis | Kanoman Kulon | Dalam wilayah sendangsari ada dusun Mangir, yang menurut Ceritanya wilayah ini merupakan daerah Perdikan Majapahit, yang dahulu dipimpin oleh Mangir Wonoboyo yang memiliki daerah kekuasaan sejak dari Dlingo sampai pesisir selatan Kebumen. Seiring perkembangan Kerajaaan Mataram daerah Mangir dianggap memberontak karena tidak mau membayar upeti, sehingga daerah ini ditaklukkan di bawah Kerajaan Mataram. Data Geografi Luas Desa 1.314,105 Ha, dengan batas Wilayah, Sebelah Utara: Desa Bangunjiwo Kec. Kasihan Sebelah Selatan Desa Triharjo Kec. Pandak Kondisi Geografis Ketinggian tanah dari permukaan laut: kurang lebih 100M, topografi (dataran rendah, tinggi, pantai ) Dataran rendah, suhu udara sekitar 30C.Orbitasi Jarak dari Pusat Pemerintahan Desa; jarak dari pusat pemerintah Kecamatan sekitar 2Km, jarak dari kota kabupaten/kota sekitar 6 Km, sedangkan jarak sampai ke Ibu Kota Propinsi sekitar 15 Km Data Demografi Jumlah Penduduk 10.574 orang, Pria 5.122 orang, Perempuan 5.462 orang Jumlah Kepala Keluarga: 2.545KK | Status | Banyak (bidang) | Luas (Ha) | | Sertifikat Hak Milik | 6.995 | | | Tanah Kas Desa | | 39.739 | | Tanah Bengkok Perangkat Desa | | | | Tanah Desa Lainnya | | 47 | | Tanah bersertifikat melalui Prona | 734 | | | Tanah yang belum bersertifikat | | | Tanah Desa sendangsari merupakan daerah hamparan dan pegunungan, pemanfaatannya sebagian besar untuk lahan pertanian dan pekarangan, rumah penduduk dan fasilitas-fasilitas umum. Status tanah di sendangsari sebagian besar milik pribadi, dan tanah kas desa.. Jalan-jalan utama desa sebagian besar sudah beraspal. Mulai akhir tahun 2008 jalan utama yang menghubungkan dusun jetis sampai manukan mengalami pelebaran 3 meter. Gedung-gedung untuk pelayanan umum sudah memadahi, apalagi ketika gempa menghancurkan bangunan tersebut sudah mulai dibangun kembali. | Peruntukan | Luas (Ha) | | Jalan | 3.5 | | Sawah dan ladang | 533.168 | Tanah kering: Pekarangan Tegalan | 689.0880 236.6230 | | Bangunan umum | 8 | | Pemukiman/Perumahan | 440.10 | | Perkuburan | 19.120 | | Perkantoran | 1.5 | | Pasar desa | | | Tanah Wakaf | 490.415 | | Tanah belum dikelola | 279.3105 | Pertanian dan Peternakan Pertanian di sendangsari sangat bergantung dengan musim hujan, irigasi teknis tidak berjalan sebagaimana mestinya, sehingga bila warga membutuhkan air harus memakai pompa. Mengakibatkan biaya produksi tinggi, padahal hasil pertanian, terutama padi kurang baik. Hasil panen hanya memenuhi konsumsi keluarga saja. Kelompok tani yang adapun tidak berjalan sebagaimana mestinya, belum terorganisir secara baik. Kelompok hanya bekerja ketika ada bantuan dari pemerintah (bantuan pupuk, bibit, beras), pemanfaatan pupuk organik untuk pertanian masih dalam skala kecil. | Jenis Pangan | Lahan (ha) | Hasil Panen/Tahun (ton) | | Padi | 45 | | | Jagung | 254 | | | Kacang Tanah | 15 | | | Ketela Pohon | 200 | | | Ketela Rambat | 3 | | | Kedelai | 45 | | | Umbi-umbian | 81 | | | Buah-buahan | | Pisang | | 49 | | Mangga | | 8.1 | | Pepaya | | 1.4 | | Durian | | 2.05 | | Kedondong | | 0.8 | | Alpukat | | 0.1 | | Buah-buahan | | Pisang | | 49 | | Mangga | | 8.1 | | Pepaya | | 1.4 | | Durian | | 2.05 | | Kedondong | | 0.8 | | Alpukat | | 0.1 | | Perkebunan | | Kelapa | 117 | 815.385 | | Peternakan (ekor) | | Ayam kampong | | 11.422 | | Ayam Ras | | 39.000 | | Itik | | 89 | | Kambing | | 712 | | Domba | | 121 | | Sapi biasa | | 830 | Pekarangan yang ada disekitar rumah ditanami pohon kelapa dan pohon keras (jati, kelapa, bamboo), tanaman kelapa diambil niranya untuk produksi gula merah (rata-rata perhari menghasilkan 2-3 kg gula). Tanaman umbi ataupun koro ada dalam jumlah yang sangat kecil, ditanamai agar pekarangan kelihatan hijau saja. Potensi untuk budidaya umbi-umbian dan koro-koropun masih berpeluang sangat besar Sapi dan kambing merupakan ternak yang paling utama, rata-rata per KK memelihara 2-3 ekor kambing, 1-2 ekor sapi. Ternak dimiliki sendiri maupun dengan sistem "gaduh’. Ternak menjadi pilihan favorit berperan sebagai "tabungan" dikarenakan pakan yang tersedia cukup banyak, didukung dengan pekarangan yang masih luas. Kotoran ternak yang melimpah belum dimanfaatkan secara maksimal sebagai pupuk kandang, kelompok ternak tingkat dusunpun belum ada. Sarana Fisik Sarana fisik yang rusak dan sudah dibangun setelah gempa yaitu gedung balai desa dari iuran warga dan bantuan pemerintah daerah (berada di dusun jetis, sebagai pusat pemerintahan desa), puskesmas kecamatan yang didanai TV swasta (yang letaknya di dusun benyo, yang berada di tengah pusat desa), SD Sendangsari dari dinas pendidikan (berada di dusun manukan, merupakan fusi dari 3 SD yang rusak dan kekurangan anak didik), gudang bulog kabupaten bantul (berada di areal persawahan, selatan jalan utama desa, dahulu tanah milik kas desa yang ditukargulingkan) serta jalan-jalan kampung bantuan PPK kecamatan. Sumberdaya Manusia Tingkat pendidikan sebagian besar penduduk adalah tamatan SLTA, warga sendangsari yang kurang mampu hanya bisa menyelesaikan pendidikan formalnya sampai tingkat SD, bila mau melanjutkan ke jenjang lebih tinggi mereka harus sekolah diluar desa sendangsari. Sebagian melanjutkan sekolahnya di sekolah-sekolah kabupaten dengan jarak tempuh yang jauh serta biaya yang tidak sedikit. Untuk warga yang mampu mereka menyekolahkan anaknya ke Perguruan Tinggi di Jogja. Walaupun pendidikan masyarakat secara umum tidak tinggi, mereka cukup trampil dalam kerajinan rumah tangga (kerajinan kayu di dusun Krebet, kerajinan bambu). Anak-anak lulusan SMP dan SMA yang tidak dapat melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi mereka berkerja sebagai buruh "glidik" di Bantul maupun di Jogja, menjadi buruh tani, buruh "tutuk emping", tukang cat, tukang batu, bahkan tukang becak. Pendapatan dari sektor buruh inipun kecil berkisar 20-25 ribu rupiah perhari. Hanya orang yang mampu saja yang banyak bekerja di sektor jasa dan menjadi pegawai pemerintah: 99 orang Jumlah Penduduk menurut tingkat pendidikan; Taman Kanak-kanak 533 anak, Sekolah Dasar: 1.776 anak, SMP/SLTP 1.861, SMA/SLTA 2.358, Akademi (D1 - D3) 77 orang, S1-S2 99 orang. Sekolah Khusus antara lain: Madrasah 97 orang, Pendidikan Keagamaan 81 orang, Sekolah Luar Biasa 2 orang, Kursus/Ketrampilan 385 orang, Pondok Pesantren 99 orang. Sumber kehidupan warga desa Sendangsari ada beberapa sektor pekerjaan yang ditekuninya, yaitu : PNS 170 orang, TNI 28 orang, Polri 310 orang, Petani 3.479 orang , Buruh Tani 887 orang ,Buruh 40 orang, Pensiunan 25 orang, Nelayan 9 orang, Jasa 6 orang Sumber kehidupan warga desa Sendangsari ada beberapa sektor pekerjaan yang ditekuninya, yaitu : | Pekerjaan | Jumlah (orang) | Karyawan: Pegawai Negeri Sipil TNI Polri Swasta | 170 28 310 | | Petani | 3.479 | | Buruh Tani | 887 | | Buruh | 40 | | Pensiunan | 25 | | Nelayan | 9 | | Jasa | 6 | Modal Sosial Kehidupan sosial masyarakat di desa sendangsari masih terjaga dengan baik, terlihat masih adanya sistem gotong-royong yang masih berjalan, terbukti dengan peristiwa gempa jogja. Walaupun sempat terpengaruh dengan peristiwa "berebut bantuan" dan penyelewengan dana gempa, (kasus dukuh Mangir Kidul yang diturunkan oleh warga). Kesenian di desapun masih berjalan dengan adanya "reog" yang dipelopori oleh Karang Taruna, upacara sesaji "wiwitan" untuk bumipun masih dilakukan agar hasil bumi melimpah dan mendatangkan keselamatan. Organisasi ibu-ibu yang berjalan di desa terutama kegiatan POSYANDU untuk kesehatan ibu dan anak. Modal keuangan Modal keuangan warga desa berasal dari pinjaman bank (SIMPEDES), dan Badan Perkreditan Rakyat (BPR), sebagian dari koperasi desa, arisan ibu-ibu dan arisan SISKAMLING. Permodalan ini hanya bisa diperoleh jika warga menjadi anggotanya, sedangkan bagi warga yang membutuhkan modal namun tidak menjadi anggota, terpaksa menjual ternaknya atau pohon yang dipunyai di pekarangan. Apalagi ketika terbentur biaya hidup sehari-hari, untuk sekolah anaknya, maupun berobat ketika sakit. Tingkat kemiskinan Kemiskinan di wilayah ini masih cukup tinggi, namun masih banyak lahan sempit untuk pertanian (bibit, pupuk masih beli) asset yang ada belum dimanfaatkan optimal. Sebagian besar penduduknya bekerja sebagai buruh "glidik" akses terhadap pekerjaan masih kurang. Akses kesehatan yang masih kurang, sebagian besar belum mendapatkan Kartu Sehat, kalau ke rumah sakit perlu biaya besar, ASKESKIN sering ditolak (Masih menerima raskin dan BLT ) Perubahan-perubahan Sejak terjadinya gempa jogja pada 27 mei 2006 terjadi perubahan dalam ; - Lahan pekarangan yang dahulu digunakan sebagai "warung hidup" mulai berkurang, kini sebagian didirikan bangunan rumah. Tanaman keras (jati, kelapa) berkurang untuk bahan bangunan. Lahan persawahan berkurang dengan adanya pelebaran jalan utama desa. Areal persawahan pinggir jalan utama ada yang dibangun ruko dan gudang bulog
- Selama proses rekontruksi pasca gempa merubah sistim sosial masyarakat, ketergantungan terhadap bantuan semakin tinggi (BLT, dana rekontruksi) sering menimbulkan ketegangan dalam kehidupan bertetangga. Birokrasi desapun semakin parah dengan adanya korupsi yang dilakukan oleh oknum kepala dusun (kasus dukuh mangir kidul yang diturunkan oleh warga)
- Kepercayaan terhadap peninggalan nenek moyang masih tinggi, terbukti masih adanya kesenian reog (terutama pemuda mangir) upacara "wiwitan" masih dilakukan agar panen berhasil. Sesaji/kenduri tahunan dilakukan bila ada warga yang lahir pada bulan "suro". Bersih-bersih makam/sarean tiap menjelang bulan ramadhan, yang dilakukan oleh warga yang mempunyai "waris’ di makam tersebut.
Potensi Desa Kondisi persawahan yang ada di Sendangsari sangat tergantung pada hujan. Dikarenakan sistim irigasi yang ada hanya mencukupi sebagian kecil persawahan. Potensi yang mungkin dilakukan dengan alternativf tanaman sayuran Pekarangan masih sangat luas yang bisa digunakan sebagai pengembangan tanaman umbi-umbian, koro-koroan dan tanaman obat. Limbah kotoran ternak (sapi, kambing) belum banyak dimanfaatkan. Bahan ini bisa diolah sebagai bahan pupuk organik maupun energi biogas. Jaringan yang digunakan dalam pengorganisasian masyarakat, dimulai dari pertemanan orang dengan orang yang kemudian ada pemahaman yang sama untuk membangun desa. Baik menggunakan lembaga formal (karang taruna, kelompok tani) atupun hubungan-hubungan personal, Kelompok-kelompok sosial masyarakat yang dapat diajak bekerjasama meliputi Kelompok Tani, Karang Taruna, komunitas kesenian, POSYANDU, sekolahan (guru sekolah) Sebagian besar sandaran hidup warga dari "glidik" baik buruh pertanian maupun bekerja dikota, petani yang ada sebagian besar petani "gurem". Pekarangan rumah sebagian ditanami tanaman keras, hasil ternak yang ada digunakan sebagai tabungan. |