|
Desa Krikilan – Sangiran adalah salah satu desa yang masuk wilayah administratif Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen. Desa Krikilan menjadi terkenal sejak ditemukannya fosil manusia yang berupa fragmen rahang bawah kanan oleh GHR von Koenigswald pada tahun 1936. Penemuan itu diberi kode Sangiran yang kebetulan ditemukan di Dusun Sangiran. Sebelum ditemukannya fosil-fosil itu sejak tahun 1934 sudah ditemukan berupa alat-alat serpih yang menurut para ahli terbuat dari bahan kaldeson. Kemudian pada masa berikutnya penelitian dilanjutkan oleh para ahli Paleoanthropologis dari Indonesia yaitu antara lain Teuku Jacob, R.P Soejono, Hari Widianto dan S. Sartono, Beberapa temuan para ahli tersebut antara lain fragmen rahang bawah, fragmen tengkorak, dll.
Perjalanan ke Desa Krikilan, dari kota Solo bisa ditempuh dengan bis jurusan Gemolong atau jurusan Purwodadi. Ongkos bis cukup terjangkau yaitu Rp. 5.000 dari terminal Tirtonadi Solo. Sekitar 30 menit perjalanan dengan bis, dilanjutkan dengan ojek dengan biaya sekitar Rp. 10.000, atau menggunakn angkudes dengan ongkos Rp. 2000 maka sampailah di Desa Krikilan. Namun apabila hendak menggunakan angkot desa, maka harus rela menunggu lama karena ankot desa tidak selalu tersedia. Gapura Situs Sangiran yang berada di jalur jalan raya Solo – Purwodadi dapat dijadikan penanda untuk menuju Desa Krikilan. Perjalanan dari gapura situs Sangiran menuju Desa Krikilan berjarak ± 5 km, dengan melewati kota Kecamatan Kalijambe. Sepanjang kanan dan kiri jalan sudah tidak terlihat lagi lahan pertanian, hampir semua tanah di pinggir jalan kecamatan didirikan rumah, warung atau toko kecil. Mendekati Desa Sangiran terdapat 2 sekolah tingkat menengah yang cukup favorit yaitu SMP dan SMK. Batas wilayah Desa Krikilan adalah jembatan kecil yang berada tidak jauh dari Dusun Kalongbali. Ketika memasuki Desa Krikilan, suasana daerah wisata sudah terasa. Di sepanjang jalan berjahjar toko souvenir dan beberapa penginapan. Sepanjang perjalanan kita akan menemui beberapa toko souvenir batu-batuan khas Sangiran, seperti toko souvenir Wasimin, toko souvenir Yanto, toko souvenir Widodo, dll. Sampai di perempatan Desa Krikilan, bagi yang akan melihat Museum Situs Sangiran maka belok kanan, sekitar 1 km. Bagi yang akan ke Balai Desa maka dari perempatan desa tinggal lurus ke arah Dusun Sangiran yang berjarak 100 m. Sedangkan kalau ke arah kiri, maka akan menuju ke obyek wisata sumber air asin di Dusun Pablengan. Desa Krikilan terletak di kawasan perbukitan rendah yang cukup kering dan tandus. Di sebelah utara berbatasan dengan Desa Ngebung, sebelah timur berbatasan dengan Desa Bukuran, sebelah selatan dengan Kali Cemoro dan sebelah barat dengan Desa Jetis Karangpung. Luas Desa Krikilan adalah ± 444,7 ha yang terdiri dari luasan sawah: 65 ha, tadah hujan: 64,4 ha, tegalan: 274 ha, pekarangan: 94 ha, ladang: 1 ha. SISTEM PEMERINTAHANSaat ini Desa Krikilan dipimpin oleh seorang Kepala Desa yaitu Bapak Widodo. Wilayah Desa Krikilan terdiri dari beberapa dusun, yang dipimpin oleh Kepala Dusun atau Bayan. Namun Kepala Dusun disini memimpin 2 atau 3 dusun. Dusun-dusun yang masuk kewilayahan Desa Krikilan adalah: Dusun Sangiran, Dusun Pablengan Wetan, Dusun Pablengan Kulon, Dusun Ngampon, Dusun Krikilan, Dusun Kalongbali, Dusun Bendo, Dusun Pagerejo, Dusun Kalijambe kidul, Dusun Ngrukun, Dusun Pondok Bayan 1 dipimpin oleh Pak Bayan Sajari, meliputi Dusun Pagerejo, Kalongbali, Ngrukun dan Bendo. Kabayanan 2 dipimpin oleh Pak Bayan Warsono, meliputi Dusun sangiran, Ngampon, Krikilan dan Pondok. Sedangkan Kabayanan 3 dipimpin oleh Pak Bayan Minto Diharjo, meliputi Dusun Pablengan Kulon dan Pablengan Wetan. PENDUDUKJumlah seluruh penduduk Desa Krikilan adalah 3.860 jiwa, dengan jumlah laki-laki 1880 jiwa dan jumlah perempuan 1980 jiwa. Untuk usia produktif yaitu 17 th – 40 th adalah 2.145 jiwa. Hampir semua jalan di Desa Krikilan beraspal dan jalan cor semen, meskipun ada beberapa jalan yang sudah rusak. Jalan di Dusun Pablengan yang menghubungkannya dengan dusun Pablengan Wetan, terjal dan aspalnya sudah mengelupas. Kondisi ini juga terjadi di Dusun Sangiran dan Ngrukun. Di beberapa desa juga masih ditemui jalan tanah dan makadam, sehingga sangat licin dan berbahaya di musim hujan. PENDIDIKANSarana pendidikan sudah tersedia mulai TK (2 buah), dan Sekolah Dasar (3 buah). Jumlah anak yang saat ini menuntut ilmu di sekolah dasar mencapai 332 siswa dan siswa TK 90 anak. Desa Krikilan memiliki 29 orang guru SD dan 9 orang adalah guru TK. Bagi anak-anak yang ingin menempuh pendidikan sekolah menengah atau lebih tinggi mereka harus bersekolah di luar desa. Sehingga tingkat pendidikan warga desa mayoritas hanya lulusan sekolah dasar. KESEHATANDesa ini memiliki poliklinik desa yang terletak di belakang kantor kelurahan. Kegiatan posyandu pun sampai sekarang masih aktif berjalan. Tiap sebulan sekali kegiatan posyandu diadakan di tiap dusun. Kegiatan posyandu: timbangan badan bayi dan balita, pengukuran tinggi badan, pemberian makanan tambahan/PMT (telur, bubur,dll), penyuluhan, arisan ibu balita. Posyandu 1: Ngrukun, Kalijambe Posyandu 2: Bendo, Kalongbali, Pagerejo Posyandu 3: Pondok, Ngampon, Krikilan Posyandu 4: Sangiran Jumlah balita, bayi dan ibu hamil di Desa Krikilan tahun 2008: No Dusun Jumlah balita Jumlah bayi Jumlah bumil 1 Sangiran 60 6 2 Sangiran Krajan 20 3 2 2 Pablengan Wetan 30 15 5 3 Pablengan Kulon 30 9 3 4 Ngampon 20 9 4 5 Krikilan 20 6 5 6 Pondok 15 3 2 7 Kalongbali 15 6 - 8 Bendo 10 6 1 9 Pagerjo 15 6 2 10 Kalijambe 20 3 4 11 Ngrukun 15 6 4 POTENSI WISATA SEJARAHDesa Krikilan merupakan lokasi penemuan fosil-fosil purbakala. Salah satunya adalah fosil kura-kura (Chelonia Sp) yang ditemukan oleh Pak Heri Purnomo dari Dusun Sangiran, pada tahun 1990an. Di desa ini sedang dibangun Museum Sangiran yang berisi fosil-fosil yang ditemukan serta diorama proses evolusi. Museum purbakala Sangiran berada di wilayah Dusun Ngampon. Penemuan fosil berawal dari penelitian GHR Von Koenigswald pada tahun 1930an yang dibantu oleh Kepala Desa Krikilan Toto Marsono. Fosil-fosil yang ditemukan oleh mereka dan penduduk setempat, dikumpulkan di pendopo kelurahan Krikilan. Fosil-fosil yang penting dibawa oleh Koenigswald keluar dari desa ke negaranya dan sisanya ditaruh di pendopo kelurahan. Sepeninggal Koenigswald, kegiatan mengumpulkan fosil ini masih dilakukan oleh Toto Marsono, sehingga jumlah fosil di pendopo makin banyak. Untuk menampung fosil-fosil yang melimpah tersebut, pada tahun 1974 dibangun museum kecil di Desa Krikilan di atas tanah bengkok seluas 1000m2. Museum itu diberi nama Museum Plestosen. Semua koleksi di pendopo kelurahan dipindah ke museum tersebut. Pada tahun 1983, pemerintah pusat membangun museum yang lebih besar lagi. Bangunan museum dibuat lebih lengkap lagi, seperti dibangunnya ruang pameran, ruang pertemuan, laboratorium, tempat penyimpanan, dll. Pada tahun 2008, museum direnovasi dengan dana 25 milyard yang berasal dari dana pemkab Sragen dan bantuan dari UNESCO. Bangunan museum semakin besar dan mewah. Selain ruang pameran yang semakin luas, museum juga dilengkapi dengan ruang audio visual. Saat ini renovasi masih dilakukan dan hampir 80% selesai. Bangunan museum dengan bentuk kubah yang atapnya terbuat dari lapisan baja tersebut, mampu menyerap tenaga kerja local untuk menjadi tukang batu dan tukang kayu. |